Jumat, 29 Januari 2010

BONGKAR-BONGKAR GUDANG (opiniku).....



KILAS BALIK ANALISIS YB MANGUNWIJAYA..... (disarikan dalam tulisanku hampir sepuluh tahun yll)...Insya Allah senantiasa bisa dijadikan ACUAN bagi kaarya-karya Arsitektur khusunya diNEGERI TERCINTA ... ini


Mengamati perkembangan arsitektur di Indonesia dewasa ini, khususnya di Surabaya. Memang sungguh sangat amat memprihatinkan. Kebanyakan dari bangunan yang ada, khususnya kalangan perumahan, lebih mengedepankan mode/trend yang ada dibandingkan dengan FUNGSI , dan KESESUAIAN bangunan terhadap kondisi lingkungan dan iklim setempat. Mereka lupa memanfaatkan alam Indonesia yang cukup menguntungkan dibandingkan dengan negara Asia lainnya (Singapore, Jepang, China) yang hampir tidak memungkinkan lagi memiliki halaman dirumahnya.
Berikut salah satu tulisan saya yang pernah dimuat disalah satu harian pagi. Pada tahun 2003 yll, yang terinspirasi dari pengamatan terhadap kecenderungan arsitektur yang berkembang saat ini.

KARYA ARSITEKTUR TIDAK HARUS NYLENEH

Dalam bahasa Jawa, kata nyleneh, berarti sesuatu yang lain daripada yang lain, tidak sebagaimana umumnya. Tetapi lebih berkonotasi negatip. Kalangan masyarakat umum,yang kurang memahami hakikat arsi tektur, seringkali mengkonotasikan arsitektur dengan bangunan yang bentuk maupun tatanan ruangnya lain dari yang lain.
Pendapat tersebut tidak seluruhnya keliru. Karya arsitektur, banyak macam ragamnya, banyak alirannya. Sebagaimana seni yang lain seperti seni lukis, yang antara lain mempunyai aliran naturalis,abstrak,kubisme,suerialisme,dan lain sebagainya.Pada seni musik juga ada aliran rock,dangdut, country, pop,klasik dan sebagainya,yang kalau dirinci juga semakin banyak ragamnya. Dalam arsitektur dikenal dengan istilah gaya atau style. Ada gaya Gothic, Renaissance, Minimalist, Chateau,Colonial, Bungalow, Art Deco, Victorian Vernicular, Meditteranian dan masih banyak lagi.
Ciri utama dari karya arsitektur adalah suatu atau kelompok bangunan atau kawasan atau lingkungan buatan yang penampakan fisiknya dapat dinikmati oleh mata manusia. Secara rasa, karya arsitektur akan memberikan kelegaan dan kenyamanan bagi yang mendiami/menggunakan bangunan atau kawasan tersebut. Baik sebentar maupun dalam waktu lama. Arsitektur juga dapat dirasakan manfaatnya. Tidak merusak lingkungan, bahkan memberikan added value (nilai tambah) bagi lingkungan (dari lingkup kecil hingga lingkup besar). Yang tidak kalah pentingnya, karya arsitektur harus menjadi wadah yang sesuai dan mencerminkan fungsi/aktivitas didalamnya.
Seperti contohnya, lumbung padi di Minang. Bangunan yang dicontohkan Romo YB Mangunwijaya Dipl Ing dalam bukunya Wastu Citra. Meskipun bangunan tersebut termasuk sederhana, tetapi memiliki nilai arsitektural yang cukup tinggi. Bangunan tersebut memiliki Guna dan Citra. Selain memberikan manfaat yang cukup tinggi, juga akrab terhadap lingkungan (jauh dari kesan nyleneh).

Guna

Guna yang dimaksudkan disini lebih jauh dapat diartikan sebagai karya arsitektur menunjuk pada keuntungan/advantage, pemanfaatan yang diperoleh. Tidak hanya sekedar keuntungan materiil semata. Lebih dari itu, karya arsitektur memberikan daya, yang menyebabkan hidup kita menjadi lebih meningkat. Sebagaimana lumbung padi di Minang (contoh yang disebutkan diatas), yang dibuat sedemikian rupa, menjadi bebas dari hama, dari kelembaban,kontrol yang mudah, menjadikan padi dapat terjaga dengan baik. Pemilik padi menjadi tenang, bebas dari rasa was-was. Disini peran bangunan sangat jelas. Memberikan ketenangan bagi pemilik, sekaligus lingkungan.
Pemilihan semua elemen/bagian-bagian bangunan ini sangat memperhatikan kegunaan bangunan itu sendiri. Seperti antara lain: bangunan dibuat tinggi dari tanah, sehingga menjadi senantiasa kering, bebas dari hama tikus dan mudah pengontrolannya.Dinding terbuat dari bahan bambu, sehingga cukup rapat menahan hujan dan terpaan angin, tetapi cukup berlubang, untuk kelancaran ventilasi dan menghindari isi lumbung menjadi busuk.
Demikian juga kemiringan atap cukup terjal, sehingga air hujan cepat mengalir. Jaman dulu, bahan untuk atap yang dipergunakan adalah ijuk, yang mempunyai spesifikasi sangat membantu penguapan air disela-sela serabutnya, disamping kedap air. Tiang-tiang penyalur beban bangunan dibuat tidak sejajar satu dengan yang lain, melainkan melebar keatas.Dimaksudkan untuk mempertinggi kekakuan lumbung. Keempat tiang tersebut berdiri diatas batu kerempeng. Selain batu bersifat menghalangi kelembaban masuk melalui tiang, perletakan bebas pada sendi semacam ini benar-benar kebal terhadap goncangan-goncangan gempa bumi dan bangunan tidak roboh oleh hempasan angin kencang.

Citra

Citra tidak jauh beda dengan guna.Tetapi lebih bertingkat spiritual. Lebih menyangkut pada derajat dan martabat manusia. Citra lebih menunjuk pada tingkat kebudayaan, sedang Guna lebih menunjuk pada peradaban. Citra merupakan cahaya pantulan jiwa, dan cita-cita manusia, lambang yang membahasakan segala yang manusiawi,indah, agung, kesederhanaan dan kewajarannya memperteguh hati setiap manusia.
Contoh bentuk dan gaya bahasa terdapat pada lumbung padi tersebut. Laras dan harmoni terhadap alam sekitar yang bergunung-gunung memuncak dianalogkan kedalam atap lumbung. Alas sempit dan tubuh melebar semakin keatas mencitrakan manusia Minang yang tidak berbudi rendah. Tetapi bagaikan asap gunung berapi,membumbung tinggi, semakin keatas semakin melebar. Meninggi seperti pepohonan. Walau hanya bangunan sederhana(gudang), lumbung padi tetap memperhatikan aestetika.Bentuknya luwes,elegan dengan hiasan seperti bahasa pantun atau kakawin. Membahasakan jiwa Minang yang rajin dan cerdas, mempergunakan modal anugerah bumi, alam tanah air.Lumbung tersebut tidak sekedar mengejar efisiensi belaka, atau pragmatika hantam kromo.
Dari kajian diatas, dapat dikomparasikan, betapa arsitektur dewasa ini perkem bangannya semakin memprihatinkan.Pembangun dan perencananya memiliki kecenderungan mengikuti trend-trend yang ada. Atau bahkan yang sekedar nyleneh untuk gedung atau bangunan yang sedang dibangunnya.Padahal, tidak jarang trend yang ada atau yang nyleneh itu tidak punya content apapun. Mereka tidak lagi memperhatikan guna dan citra. Tidak lagi mempedulikan alam dan lingkungan sekitar, kondisi dan situasi setempat.Mereka hanya melihat dengan mata sekilas, tanpa mempelajari hakikat yang terkandung didalamnya lebih dalam. Yang mewah atau yang nyleneh dianggap selalu indah. Dan yang kasat mata indah selalu dikonotasikan dengan produk atau karya arsitektur. Yang bergaya ”luar” (Luar Negeri) dianggap lebih bergengsi.
Salah satu contoh yang sering kita lihat dewasa ini, banyak rumah-rumah mewah di Indonesia memiliki kecenderungan mengikuti trend arsitektur gaya Meditteranian. Dengan antara lain pembuatan teritisan yang sangat sempit, yang nota bene tidak menjawab tuntutan alam atau iklim di Indonesia. Masih banyak lagi contoh bangunan di Indonesia yang hanya sekedar meniru kulitnya saja, tanpa diketahui maksud yang terkandung didalamnya.
Padahal kalau kita perhatikan, bangunan atau rumah-rumah tradisional ditanah air kita, banyak ragamnya. Dan hampir semua bangunan tersebut senantiasa mengandung arti dan senantiasa disesuaikan dengan fungsi,kondisi dan situasi setempat. Sebagaimana bangunan lumbung padi Minang diatas, hampir seluruh bagian dari bangunan tersebut dirancang sedemikian detail, sehingga produk yang dihasilkanpun memiliki ”jiwa”/”roh”. Mengandung makna yang sangat dalam dan kegunaan yang benar-benar tepat dan efisien tanpa harus mengabaikan segi aestetika atau keindahan. Dan tentunya senantiasa mengkondisikan diri dengan alam atau iklim setempat.

Dikutip dari
Surabaya pagi, Sabtu Pon, 08 Maret 2003
tulisan
Uniek Praptiningrum W
--------------------